Langsung ke konten utama

Mesin Waktu


Hallo.... ini satu lagi cerpen aku.. aku lupa ini tahun kapan, antara 2015-2016 kali yaaa. Dan cerpen ini dimuat di majalah mandiri di kampus aku. Ini sudah aku edit dan revisi tapi tidak megubah alur ceritanya kok. Semoga kalian semua menikmati yaa.. jangan lupa tinggalkan komentarnya yaa...


***********************

Mesin Waktu

"Jika boleh memilih, aku lebih suka diriku yang sekarang dengan sejuta ekspresi yang bisa dengan lepas kutunjukkan tanpa rasa ego sedikitpun.
Apakah itu karena kehadiranmu?
Tapi jika andai saja semua berubah dan kau tak lagi disampingku, bisakah aku melakukannya seorang diri?"
***
Aku merapatkan jaket yang kukenakan. Sangat dingin tapi sama sekali tidak ada angin. Karena berlokasi di area pegunungan menjadikan tempat rekreasi ini sering diselimuti kabut dan berudara dingin. Seperti sekarang ini, sebagian danau tertutupi kabut namun sebuah adegan di tepi danau itu terlihat sangat jelas. Sepasang pria dan wanita yang sedang berpacaran, bahkan hanya dengan melihatnya saja membuat pipiku menghangat apalagi jika aku kembali merasakannya kurasa aku tak perlu menggunakan jaket setebal ini untuk mengusir dingin. Aku berdiri ditepi danau, berusaha menjangkau pandanganku ke puncak gunung batur yang tertutup kabut. Jika saja langit menangis dapatkah kabut itu pergi sehingga puncak gunung itu terlihat, seperti ketika mata menangis maka beban di dalam hati akan menghilang namun satu hal yang akan sangat terasa sebagai gantinya, dingin.
Aku berjalan kearah pintu masuk Kebun Raya Botanical Garden, tidak banyak yang berubah semenjak terakhir kali aku kesini tiga tahun yang lalu. Di depan sana aku melihat lagi pasangan yang tadi aku lihat di tepi danau, mereka berjalan melewati jalan setapak sambil berpegangan tangan dan bersenda gurau. Betapa hangatnya, menjadi saksi momen indah seperti ini berlatarkan pohon-pohon hijau tinggi menjulang, rerumputan, bunga berwarna warni yang sedang mekar, alam pun seakan ikut tersenyum melihat kebahagian mereka.
Entah mengapa pandanganku tak bisa beranjak dari mereka, kakiku pun melangkah dengan sendirinya kemanapun mereka pergi. Apa aku terlalu iri melihat orang yang sedang pacaran sedangkan aku hanya sendiri di tempat sedingin ini? Aku rasa tidak, aku malah merasakan suatu kehangatan, kenyamanan seperti sebuah memori indah yang sedang diputar ulang dihadapanku.
Mereka duduk di sebuah bangku berwarna putih kusam dan lapuk dibawah pohon besar. Aku berdiri di dekat mereka yang membelakangiku. Kepala si wanita berada di pundak lelakinya.

"Hah nyamannya... aku lelah, biarkan aku tidur ya sebentar saja." Kata si wanita.
"Hhmm..." gumam si lelaki sambil mengelus puncak kepala wanitanya.
"Terimakasih ya, ini traveling terindahku. Aku suka banget tempat ini, setiap ke Bali aku pasti selalu ke tempat ini tapi nggak pernah terasa seindah hari ini." si wanita berkata.
"Terimakasih juga untuk hari ini. Dimanapun dan kapanpun adalah hari yang sangat indah jika aku bersamamu Jingga." Kata si lelaki sambil mengecup puncak kepala wanitanya.

Aku sedikit tersentak. Jingga? Itu namaku.

"Tetaplah seperti ini, aku senang bisa merasakan begitu banyak ekspresi, merasakan kehangatan. Tidak seperti dulu sebelum kehadiranmu, terlalu dingin dan datar. Jadi berjanjilah untuk tetap disisiku, Pram."

"Pram...?" Hatiku mendingin setelah mendengar nama itu, nama yang sangat aku rindukan.

Semburat cahaya keemasan menghiasi langit, berusaha untuk mengalahkan tebalnya kabut namun tentu tak berhasil. Begitu pula dengan hangatnya sinar mentari senja yang berusaha mengusir dinginnya hawa namun tak berhasil.
Semakin dingin, aku hendak berjalan ke arah mobilku yang terparkir di areal parkir pinggir danau beratan. Saat aku ingin menyeberang, seorang gadis menabrak pundakku cukup keras hingga aku terjatuh. Gadis itu berlari mendekati sebuah mobil Swift berwarna putih yang disekitarnya telah dikerumuni banyak orang. Aku mendengar sayup-sayup wanita yang menabrakku tadi berteriak histeris sambil menangis. Penasaran akan apa yang terjadi, aku berusaha untuk bangkit berdiri menahan rasa sakit di telapak tanganku yang lecet, aku berjalan perlahan ke arah kerumanan tersebut. Semakin dekat dan tanpa sengaja aku melirik plat mobil swift itu ‘B 5896.“Ya Tuhan, mobil ini kan...”
“Prraaaaaaaaaamm......”

Pram?
Anggara Pramudya?

Tidak mungkin kan aku mengalami ini dua kali?
Aku tidak bisa mengontrol diriku, derai air mata jatuh membasahi pipiku yang telah membeku. Aku tak bisa merasakan apa-apa, terlalu dingin dan beku. Bahkan bibirku sudah tak mampu untuk bicara. Pram?
Dering ponselku mengembalikanku ke dunia nyata.
Aku sempat tak percaya dengan apa yang kulihat di layar ponselku.

My Pram ♥ Video Calling...

Dengan cepat aku menggeser tombol hijau, tampaklah disana wajah yang sangat aku rindukan. Air mataku kembali menetes namun bedanya sekarang hatiku terasa lebih hangat hanya dengan melihat wajah kurusnya dengan selang di hidungnya, ia berusaha tersenyum dengan kedua bola mata berwarna coklat itu yang sudah 3 tahun tak kulihat.
“Pram...” pelan sekali aku memanggil namanya.
“Jingga...” tidak itu bukan suara Pram.
“Pram akhirnya sadar dari komanya, tapi dia masih sangat sulit untuk berbicara.” Kak Jenny yang menjawab, kakak perempuan Pram yang selalu mendampinginya selama aku disini.
Aku menyeka sisa air mata yang ada di pipiku dan dengan sekuat tenaga aku menahan diri agar tak menangis di hadapannya. Aku memandang wajahnya lekat-lekat untuk menyimpannya di memoriku dan di hatiku terdalam.
Aku berbicara sangat pelan, aku mengatakan maaf karena dirikulah penyebab kecelakaan tiga tahun lalu, jika saja saat itu aku tak marah dan meninggalkannya. Dia menggelengkan kepalanya perlahan. Aku menggigit bibirku semakin berusaha untuk tak terisak.
“Praam...” kembali aku memanggilnya dengan lembut sambil menatap matanya yang lemah dan rapuh serapuh hatiku.
“Aku merindukanmu Pram.” Kataku lirih.
Lagi-lagi ia tersenyum, ada setitik air mata di ujung matanya seakan menjawab betapa rindunya ia.
“Cepatlah pulih, aku akan mengajakmu kemari lagi dan memperbaiki semuanya.” Kataku sambil tetap menatapnya dalam.
Air matanya mulai jatuh namun ia masih menatapku lekat seakan ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya mulai terbuka, ia mengatakan sesuatu namun sama sekali tak terdengar. Aku menajamkan mata dan pendengaranku. Bibirnya bergerak sangat pelan dan terbata, mengatakan sesuatu yang sangat dalam. Kini air mataku tak mampu lagi aku bendung, aku pun menangis terisak di hadapannya setelah aku menangkap gerakkan bibirnya mengatakan “i love you”. Aku kembali menatapnya, kini semakin lama sepasang bola mata coklat yang sangat kurindukan itu semakin meredup. Kumohon jangan salam perpisahan yang ingin kau katakan dengan mata itu Pram. Tunggu aku kembali dan biarkan aku mendampingimu.
“I love you more Pram... aku akan pulang sekarang, tunggu aku ya.” Kataku sambil melangkah cepat kearah mobilku tanpa melepas pandanganku dari layar ponsel.
            Aku berjalan terburu-buru hingga sesuatu tersandung sepatu dan aku terjatuh, ponselku terlepas dan jatuh di depanku. Aku berusaha meraihnya namun...
“Praaaamm...” aku mendengar teriakan Kak Jenny sebelum layar ponselku menggelap.
***


Aku tahu ini tidak akan menjadi perjalanan yang menyenangkan buatku seperti saat bersamamu dulu. Tapi aku tahu aku harus melakukannya untuk membuat hidupku dan hidupmu jauh lebih baik bahkan jika memang kita tak ditakdirkan hidup di dunia yang sama. Aku tahu aku tidak akan bisa melupakannya, perjalanan indah tiga tahun lalu yang berakhir musibah dan perjalanan mesin waktuku hari ini. Dengan ini aku sadar bahkan disaat aku punya kesempatan untuk merubah keadaan, aku tak akan pernah bisa karena semua itu hanya anganku semata. Dan sebuah perjalanan tidak pernah memiliki akhir, semua harus dilalui untuk dapat melakukan perjalanan yang lain. –Jingga Ariana

****************************************************

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Live To Write To Live

Menulis ? Mendengar satu kata itu, apa yg terpikirkan olehmu? Definisi menulis menurut setiap orang pasti berbeda-beda. Bagiku menulis adalah saat dimana aku mencurahkan seluruh hal yang sedang aku rasakan yang bahkan aku sendiri tak bisa mengakuinya pada orang lain, suatu hal yang tak mudah tersampaikan dengan kata-kata namun akan terungkap segalanya melalui tulisan yang kubuat. Itulah definisi menulis bagiku. Aku bukanlah seorang yang pandai mengungkapkan isi hatiku atau apapun itu pada seseorang. Jika tidak dengan menulis apa jadinya aku ? Akankah aku menjadi wanita menyedihkan yang memendam segala yang kurasakan sendirian ? Oh tidak, bahkan aku rasa hal itu jauh lebih menyedihkan dari definisi 'sendiri'. Aku merasa sangat bahagia disaat aku menulis, bahkan aku rasa itu sesuatu yang melebihi kata bahagia. Pernahkah terpikir olehmu bahwa penulis itu seperti Tuhan yang bisa dengan mudahnya menciptakan orang-orang dengan berbagai macam karakter yang berbeda-...

Sebuah Pesan di Pohon Maple

1999, Winchester, Hampshire, England. Hangatnya cahaya matahari seakan mengucap salam perpisahan sebelum kembali ke peraduannya. Terdengar suara gemerusuk dedaunan kering berguguran menutupi jalanan dan rumput-rumput disekitar serta kicauan pilu burung-burung yang mulai kehilangan rumahnya di awal musim gugur. Sebuah senandung seorang gadis menularkan keceriaan hatinya dengan senyuman bak malaikat dan rambut hitam si gadis yang terurai indah dibelakang punggung dan bergerak mengikuti langkah-langkah kecilnya. Ia terus melangkah, tak sabar untuk bertemu dengan seseorang yang sedang menunggunya di sebuah ladang yang terletak di pinggir danau. ‘Haruskah aku memeluknya setelah mengatakan bahwa aku telah diijinkan mama dan papa untuk tidak ikut pergi bersama mereka? Ohh tidak, itu terlalu berlebihan.’ Gumam gadis itu membuat semburat warna merah terang menghiasi pipi chubby-nya. Beberapa langkah lagi ia akan menemui seorang lelaki yang ditemuinya pada awal musim semi dan telah...