Langsung ke konten utama

Live To Write To Live

Menulis ?
Mendengar satu kata itu, apa yg terpikirkan olehmu?
Definisi menulis menurut setiap orang pasti berbeda-beda.

Bagiku menulis adalah saat dimana aku mencurahkan seluruh hal yang sedang aku rasakan yang bahkan aku sendiri tak bisa mengakuinya pada orang lain, suatu hal yang tak mudah tersampaikan dengan kata-kata namun akan terungkap segalanya melalui tulisan yang kubuat. Itulah definisi menulis bagiku.
Aku bukanlah seorang yang pandai mengungkapkan isi hatiku atau apapun itu pada seseorang. Jika tidak dengan menulis apa jadinya aku ? Akankah aku menjadi wanita menyedihkan yang memendam segala yang kurasakan sendirian ?
Oh tidak, bahkan aku rasa hal itu jauh lebih menyedihkan dari definisi 'sendiri'.
Aku merasa sangat bahagia disaat aku menulis, bahkan aku rasa itu sesuatu yang melebihi kata bahagia. Pernahkah terpikir olehmu bahwa penulis itu seperti Tuhan yang bisa dengan mudahnya menciptakan orang-orang dengan berbagai macam karakter yang berbeda-beda, membuat jalan hidup dan takdir sesuai dengan keinginan penulis. Dan aku benar-benar merasakannya, bahkan seakan ikut berada melihat langsung setiap adegan yang aku tulis sendiri. Itulah yang aku rasakan setiap aku menulis. Sederhana bukan? tapi aku sangat menikmatinya.
Tersenyum, berdebar, bahkan menangis, semua telah kurasakan ketika aku merangkai kata demi kata hingga menjadi sebuah cerita.
Itu jugalah yang kuingin dirasakan oleh semua pembacaku. Menjadi kebanggan tersendiri ketika mereka mengatakan akan menunggu setiap karya dariku.
Hal itu juga kulakukan jika menyukai karya seorang penulis karena aku adalah seorang pencinta menulis yang lahir dari seorang pembaca jadi aku sangat tahu bagaimana rasanya setia menunggu dan menggemari setiap karya dari penulis yang  dikagumi. Maka aku juga ingin hal itu dirasakan oleh para pembacaku. Karena merekalah penyemangatku yang membuat diriku selalu menulis, menulis dan menulis. Menulis yang bukan hanya untuk kesenangan diriku sendiri tapi untuk memenuhi rasa keinginan mereka untuk membaca sebuah karya yang kuciptakan. Mereka yang kumaksud bukanlah sekedar pembaca bagiku, merekalah teman-temanku yang selalu membuat hatiku bergetar bangga atas setiap komentar dan masukan-masukan untukku.
I would like to say thank you so much for all of you. Pada kalian semua yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca karyaku walaupun karya yang kubuat masih bisa terhitung dengan jari. Terima kasih untuk semua teman-temanku yang selalu membantuku dalam membuat alur cerita yang mengesankan setiap aku mengikuti sebuah lomba menulis. Terima kasih atas dukungan-dukungan kalian semua. Mulai sekarang aku akan lebih bekerja keras untuk membuat karya-karya baru yang lebih indah. Aku akan terus menambah karya-karya yang akan kuciptakan, tentu saja dengan setiap dukungan-dukungan kalian di dalamnya.
Dan satu hal lagi alasan yang membuatku tak berhenti menulis, suatu saat jika sesuatu terjadi padaku hingga membuatku tak bisa melakukan pekerjaan yang biasa kulakukan, setidaknya masih ada satu hal yang masih bisa kulakukan yaitu menulis.


 Satyari Dewi ^^

picture from :  http://pendidikanmatematika2011.blogspot.com/2012/04/menulis-sebagai-proses-kreatif.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Pesan di Pohon Maple

1999, Winchester, Hampshire, England. Hangatnya cahaya matahari seakan mengucap salam perpisahan sebelum kembali ke peraduannya. Terdengar suara gemerusuk dedaunan kering berguguran menutupi jalanan dan rumput-rumput disekitar serta kicauan pilu burung-burung yang mulai kehilangan rumahnya di awal musim gugur. Sebuah senandung seorang gadis menularkan keceriaan hatinya dengan senyuman bak malaikat dan rambut hitam si gadis yang terurai indah dibelakang punggung dan bergerak mengikuti langkah-langkah kecilnya. Ia terus melangkah, tak sabar untuk bertemu dengan seseorang yang sedang menunggunya di sebuah ladang yang terletak di pinggir danau. ‘Haruskah aku memeluknya setelah mengatakan bahwa aku telah diijinkan mama dan papa untuk tidak ikut pergi bersama mereka? Ohh tidak, itu terlalu berlebihan.’ Gumam gadis itu membuat semburat warna merah terang menghiasi pipi chubby-nya. Beberapa langkah lagi ia akan menemui seorang lelaki yang ditemuinya pada awal musim semi dan telah...

Mesin Waktu

Hallo.... ini satu lagi cerpen aku.. aku lupa ini tahun kapan, antara 2015-2016 kali yaaa. Dan cerpen ini dimuat di majalah mandiri di kampus aku. Ini sudah aku edit dan revisi tapi tidak megubah alur ceritanya kok. Semoga kalian semua menikmati yaa.. jangan lupa tinggalkan komentarnya yaa... *********************** Mesin Waktu " Jika boleh memilih, aku lebih suka diriku yang sekarang dengan sejuta ekspresi yang bisa dengan lepas kutunjukkan tanpa rasa ego sedikitpun. Apakah itu karena kehadiranmu? Tapi jika andai saja semua berubah dan kau tak lagi disampingku, bisakah aku melakukannya seorang diri?" *** Aku merapatkan jaket yang kukenakan. Sangat dingin tapi sama sekali tidak ada angin. Karena berlokasi di area pegunungan menjadikan tempat rekreasi ini sering diselimuti kabut dan berudara dingin. Seperti sekarang ini, sebagian danau tertutupi kabut namun sebuah adegan di tepi danau itu terlihat sangat jelas. Sepasang pria dan wanita yang sedang ber...