Langsung ke konten utama

FF EXO "BLACK TEARS" - SatyariDewi

Cast : Luhan, Sehun, Kai.
Author : Satyari Dewi
Date release : 27 of March 2014 [1st release on Facebook], 06 of June [1st release on My Blog]
Genre : Sad, Action, Family, Friendship.
Type : Oneshot
—————————

Annyeonghaseyo kpopers ... khususnya para Exo fans ini adalah ff EXO pertama yang aku buat sekaligus FF pertama yang aku post ke media sosial. Selamat membaca dan semoga menikmati FF ini ^^
Mian jika banyak typo and Please DON’T COPAS, PLAGIARISM, and BASH !
 *********************************************************************************

"Eomma... eomma..." teriak seorang anak laki-laki berusia 10 thn di depan pintu kamarnya, seorang anak yg mestinya tak pantas menyaksikan apa yg sedang dilakukan kedua orang tuanya.

Dia berteriak, dia menangis sejadi-jadinya.

Namun orang tua mereka seakan tak mendengarkan suara jeritan pilu anaknya, mereka saling meluapkan emosi satu sama lain, saling berteriak, memaki, tamparan, pukulan, lemparan, suara kaca pecah, kekerasan bahkan sesekali terselip kata2 kasar diantara teriakan mereka. Anak itu terus menangis dan berteriak berharap orang tua mereka menghentikan pertengkaran mreka.

"Eomma ... hentikan ! Aku mohon eomma ... appa ... !" Teriak anak itu terus menerus, kini ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah orang tua mereka.

"Sehun-ah !" Panggil seseorang sambil memegang tangan sehun lalu memeluknya.

"Hyeong... Luhan hyeong... hentikan mreka hyeong ... aku tak mau hik eomma dan appa saling menyakiti karena ... hikss karena aku juga ikut tersakiti hikss hyeong ... hikss aku sakit hyeong hikss sakit ..." kata sehun di sela isakan tangisnya.

"Tenanglah hun-ah, berhentilah menangis, ada hyeong disini jadi berhentilah menangis." Kata Luhan dengan nada tegar seorang kakak namun tak bisa dipungkiri sebutir cairan bening mengintip dari ujung matanya.

Luhan menarik sehun masuk ke kamar mereka meninggalkan pertengkaran orang tua mereka di ruang keluarga.

Ruangan yg seharusnya menjadi tempat untuk berkumpulnya sebuah keluarga merasakan kehangatan dan kebahagiaan namun kini lebih pantas untuk dihindari dan ditinggalkan.

"Sehun-ah... pakailah ini, dengarkan dan nikmati lagu-lagu yg ada disini agar kau tidak mendengerkan hal-hal yg tidak ingin kau dengar. Mengerti ?" Kata Luhan sambil memberikan sebuah earphone dan mp4 miliknya kepada Sehun lalu membantu Sehun mengenakannya.

"Ini sekarang jadi milikmu, gunakan ini jika kau ingin meredam hal-hal yg tidak ingin kau dengar." Kata Luhan.

"Tapi hyeong, ini kan yang kau beli dengan mengumpulkan uang jajanmu hingga kau rela tak jajan disekolah
berminggu2. Kenapa sekarang kau memberikannya kepadaku hyeong?"

"Gwaenchana Sehun-ah, aku sudah tidak membutuhkan benda ini lagi, hyeong tau kau lebih membutuhkannya. Sekarang ini milikmu, arraji?" Kata Luhan.

Ucapan Luhan dengan tatapan matanya yang teduh dan penuh kehangatan membuat Sehun menuruti perkataan hyeong nya. Luhan memang selalu bisa membuat Sehun merasa lebih tenang dan nyaman, bagi Sehun Luhan adalah segalanya, Luhan adalah rumahnya tempatnya kembali. Bahkan dia yakin dia tak membutuhkan siapapun di dunia ini selama ada Luhan disisinya.
Begitupun dengan Luhan, baginya Sehun adalah alasannya untuk tetap bertahan hidup agar ia bisa melindungi dongsaengnya, melindunginya dari apapun dan siapapun karena Sehun adalah hidupnya.

Ditatapnya Sehun yg mulai memejamkan matanya, Luhan melipat sedikit sweaternya, melirik jam tangannya menunjukkan pukul 10 malam namun suara pertengkaran diluar masih terdengar walau sudah tak sekeras tadi.

"Aku sangat membencimu Kim, sangat. Kau lelaki busuk ! Kau tidur bersama mantan kekasihmu di kamar kita ! Sialan kau sh*it ! Pergi kau Kim, aku ingin kau mati. Pergi kau dan bawa anak2mu pergi bersamamu !!! Pergi !!!"

Luhan memejamkan matanya saat mendengarkan kata2 eommanya, kata2 yg diucapkan wanita yg melahirkannya. Luhan menahan rasa sakit, amarah, kekecewaan yg teramat sangat. Butiran bening kembali terlihat di ujung matanya namun dengan sekuat tenaga dia menahannya agar tak menangis karena jika seorang kakak menangis maka sang adik akan meraung.

"Tidak apa-apa Luhan-ah, eomma dan appa baik-baik saja. Luhan dan Sehun baik-baik saja. Kami baik-baik saja. Mereka menyayangi kami, eomma dan appa sangat menyayangi Luhan dan Sehun. Kami saling menyayangi. Kami keluarga yg bahagia. Bahagia selamanya. Ne... bahagia selamanya." Bisik Luhan dengan masih memejamkan matanya, membuat dirinya rileks sambil mengucapkan sugesti2 positif kepada dirinya sendiri. Disaat emosi nya tak bisa terkontrol ia akan melakukan itu, mengucapkan kata2 itu berulang-ulang hingga ia merasa dirinya benar2 bisa terkontrol.

Sehun mulai keluar dari kamarnya melangkah mendekati kedua orang tua mereka, terlihat Kim Han Se menangis terduduk di atas lantai marmer ruangan keluarga, sedangkan Kim Jae Hoon baru keluar dari kamarnya membawa sebuah koper dan kunci mobil.

"Aku pergi !" Hanya dua kata yg terucap dari mulut Kim Jae Hoon membuat Luhan berteriak tanpa sadar,
"Appa ... Jangan tinggalkan kami !" Teriakan yg tegas namun tak sanggup menutupi perasaan terluka yg terselip disetiap katanya.

Kim Jae Hoon menatap putra pertamanya dari balik bingkai kaca matanya dengan ekspresi yg tak terbaca.

Tatapan Luhan teralih kearah eommanya yg kini berjalan cepat ke arahnya, wajahnya pucat, matanya merah dengan air mata yg tergenang di kedua pelupuk matanya, terdapat luka gores di pipi kanannya membuat hati Luhan sakit melihat keadaan eommanya seperti ini, sangat sakit.

"Kemari kau !" Kata eomma sambil meraih dan menggenggam tangan Luhan dengan sangat keras.

"Eomma, apa yg kau lakukan?" Tanya Luhan saat eommanya mendobrak pintu kamar Luhan dan Sehun.

"Ya ... bangun kau ! Cepat bangun !" Teriak eommanya sambil mengguncang keras tubuh Sehun, lalu melemparkan earphone yg dikenakan Sehun.

"Eomma hentikan ! Apa yg kau lakukan? Biarkan Sehun tidur, eomma." Teriak Luhan mencoba menghentikan eommanya.

Luhan tak mengerti apa yg akan dilakukan eommanya, tidak, bukan eomma, Kim Han Se saat ini lebih tampak seperti orang yg sedang kesurupan bukan seorang ibu.
Kini Luhan dan Sehun ditarik oleh eomma mereka.

"Eomma... lepaskan kami eomma , kenapa eomma menarikku dan hyeong ?" Teriak Sehun sambil menangis dan berusaha berontak namun ia tahu tenaganya tak cukup untuk melepaskan diri dari cengkeraman eommanya.
"Diam kau !"

"Kim ... !!! Kemari kau, dan bawa anakmu pergi bersamamu !" Teriak eommanya namun yg menjawab hanya suara deru mesin mobil di luar rumah mereka. Mengindikasikan appa sudah pergi.
"Ya ... Kim !" Lagi-lagi eommanya berteriak frustasi.

"Eomma jebal, lepaskan Sehun. Aku akan pergi dari rumah ini tapi aku mohon kau lepaskan Sehun eomma aku mohon." Kata Luhan, masih berusaha menahan air matanya yg telah menggenang.

"Apa maksudmu Hyeong ? Aku tak ingin kau pergi hyeong, jangan !" Teriak Sehun dengan suara parau.

"Diam kalian! Kalian berdua yg harus pergi menyusul appa kalian! Ka ! Palli ka !" Teriak eommanya dengan derai air mata, melepaskan tangan Sehun dan Luhan, meninggalkan mereka di luar pintu masuk.

"Eomma... eomma... !!!" Teriak Luhan mencoba mencegah eommanya menutup pintu tepat dihadapan mereka.
Bbrraaakkkk ....

Lalu hening... hanya dinginnya angin malam yg menemani mereka.
"Hyeong ... kita harus tidur dimana?" Suara parau Sehun memecah keheningan, ia sudah tak menangis mencoba untuk tenang agar hyeongnya tak sedih.

Luhan berdiri membelakangi adiknya, masih menatap nanar ke arah pintu berharap eomma mereka tersadar dan membukakan pintu untuk mereka namun tidak. Luhan mengatur ekspresi wajahnya sebelum berbalik menatap adiknya.

"Sehun-ah, kita tidur disini saja ya."
"Tapi hyeong, aku kedinginan." Kata Sehun mendekap tubuhnya berusaha mengusir hawa dingin yg semakin terasa.

Luhan melepas sweater yg dikenakannya, hingga kini ia hanya mengenakan baju kaos oblong.
"Pakai ini hun-ah." Kata Luhan sambil memakaikan sweater miliknya kepada Sehun.

"Tapi hyeong, kau tidak apa-apa?" Kata Sehun menatap hyeong nya dengan nanar.

"Nan gwaenchana." Kata Luhan dan tersenyum lembut meyakinkan adiknya.

"Ayo mari kita tidur Sehun-ah, ini sudah malam." Kata Luhan.

Lalu mereka merebahkan diri diatas lantai marmer teras rumah mereka.
Sehun dengan cepatnya tertidur nyenyak, ia memeluk tubuh Luhan.

"Mianhae Sehun-ah, hanya ini satu-satunya yg bisa hyeong pikirkan. Hyeong yakin eomma akan membukakan pintu setelah ia sadar nanti." Bisik Luhan sebelum ia memejamkan matanya. Ia pun terlelap, karena kelelahan yg teramat sangat. Dingin dan kerasnya lantai marmer yg menjadi alas tidur mereka tak mampu mengalahkan rasa kantuk dan lelah. Mereka tidur dengan saling berpelukan, saling mencari kehangatan untuk meredam hawa dinginnya malam.
***
Luhan pov
Perlahan aku membuka mata, merasakan lantai marmer yg kutiduri semalam lebih terasa empuk entah aku bermimpi atau nyata saat aku memandang sekitar dan tersadar ini kamarku dan sehun. Kulirik jam tanganku, menunjukkan pukul 3 pagi. Aku memutar kepalaku, kulihat Sehun tidur lelap di sampingku dengan sweaterku yg masih melekat ditubuhnya.

Apakah eomma yg membawa kami masuk? Ataukah kejadian kemarin malam hanyalah mimpi? Jika saja aku boleh memilih aku ingin pilihan yg kedua karena saat aku keluar kamar nanti eomma dan appa pasti menunggu kami di meja makan untuk sarapan. Aku mencoba untuk bangun tapi aku merasa sangat lemas dan kepalaku berdenyut. Secara reflek aku menyentuh keningku namun yg kusentuh adalah sebuah kompres. Apakah aku demam? eomma kah yg meletakkan ini di keningku? Semua pertanyaan itu terjawab disaat aku melihat seorang wanita yg terlihat sangat pucat dengan mata lebam tertidur di atas sofa yg terletak diujung kamarku.
***
Luhan menatap eommanya nanar, berusaha lebih keras untuk bangun melawan rasa lemas dan sakit di kepalanya, berusaha menyeret kakinya ke arah lemari dan mengambil sebuah selimut lalu membentangkan ke tubuh eommanya. Lalu ia kembali merebahkan diri di tempat tidurnya, kembali meletakkan kompres di keningnya, memejamkan matanya dengan tangan kanan melintang menutupi matanya. Tiba-tiba butiran bening keluar dari ujung matanya. Luhan menangis. Air mata yg sedari kemarin malam ditahannya dengan sekuat tenaga kini mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Ia menangis dalam heningnya malam, berusaha agar tak terisak agar eomma dan dongsaengnya tak terbangun. Cukup dengan menangis seperti ini, tanpa suara dan tanpa isakan yg akan mengurangi beban berat di hatinya. Detik demi detik berlalu, air mata Luhan masih mengalir, menumpahkan semua kesedihan, amarah dan rasa kecewa yg dipendamnya sendiri. Dan juga menangisi nasib keluarganya yg entah akan seperti apa. Hanya Tuhan-lah yang tahu.

***
Sudah 6 tahun berlalu, keluarga Kim mulai kembali bersatu. Tiga tahun setelah kejadian malam itu akhirnya Kim Jae Hoon kembali ke rumah mereka, meminta maaf kepada mereka dengan sungguh-sungguh hingga membuat hati Kim Han Se luluh karena selama 3 tahun mereka berpisah, Kim Jae Hoon selalu berusaha untuk rujuk dengan mereka dan tak pernah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan suami dengan selalu mengirim uang kepada keluarganya.
Kebahagiaan mereka bertambah ketika 2 tahun lalu lahir seorang anggota keluarga baru bernama Kim Je Hyun, adik perempuan Luhan dan Sehun namun suatu kebahagiaan memang tak lepas dari kata musibah, Kim Je Hyun mengidap sebuah kelainan jantung dari lahir. Sebuah penyakit yg banyak dialami bayi baru lahir, penyakit jantung bocor. Penyakit ini yg membuat JeHyun tak bisa tumbuh layaknya manusia normal. Badannya sangat lemah dan sangat rentan terhadap penyakit. Walau saat ini sudah berumur 2 tahun namun postur tubuhnya masih seperti bayi berumur 5 bulan, tal bisa berjalan maupun berbicara. Kim Je Hyun jadi tampak seperti cacat karena penyakitnya. Namun dia beruntung semua orang disekitarnya sangat menyayanginya, memperlakukannya layaknya dia anak yg sehat.

Suatu pagi di dalam sebuah bus.
"Luhan Hyeong... sampai kapan kita harus naik bus terus?" Gerutu seorang pria berseragam XOXO High School.
"Gwaenchana Sehun-ah, belakangan ini appa memang sangat sibuk." Kata seorang pria berseragam sekolah yg sama namun memiliki tinggi tubuh sedikit dibawah dongsaengnya.
"Tapi hyeong, apa kau tidak merasa appa sedikit berubah belakangan ini?" Kata Sehun menatap Luhan yg duduk di sebelahnya.

Ingin sekali Luhan mengatakan 'iya, hyeong sangat merasakannya bahkan tidak sedikit tapi appa sangat berubah, sangat berbeda dari appa yg dikenalnya saat keluarga mereka kembali rujuk.' Setiap pikiran itu datang Luhan selalu menepisnya, ia tak ingin berbagai kemungkinan mulai merasuki pikirannya, tak lupa ia selalu mensugesti dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Dan terutama ia tak ingin mengatakannya, cukup hatinya yg menyimpannya. Ia harus membuat Sehun tenang tanpa menghawatirkan hal2 seperti itu.
"Anni Sehun-ah, appa pernah bercerita padaku bahwa ia sedang mengerjakan sebuah proyek baru di perusahaannya jadi ia akan jauh lebih sibuk dari biasanya. Bukan suatu hal yg mesti dikhawatirkan." Kata Luhan tersenyum ke arah Sehun.

'Mianhae Sehun-ah hyeong sedikit berbohong, itu karena hyeong tidak ingin kau mengkhawatirkan hal ini. Biarkan hyeongmu saja yg mengkhawatirkan semua ini.' Kata Luhan dalam hati berusaha bersikap biasa dihadapan Sehun.

"Eo... benar katamu hyeong." Kata Sehun memperlihatkan senyumnya.
Hening sesaat.
"Bukankah hari ini kau ada kegiatan di club karate?" Tanya Luhan memecah keheningan diantara mereka.
"Ne, hyeong tapi aku akan absen karena kata eomma kita harus pulang lebih awal hari ini hyeong. Kau janganlah kerja sambilan untuk hari ini saja."
"Anni Sehun-ah, hyeong harus bekerja, mianhae. Tapi hyeong akan berupaya agar bisa pulang lebih cepat dari biasanya."

"Baiklah, aku, eomma, appa dan Jihyun akan menunggumu di rumah." kata Sehun dengan sangat antusias.
Luhan tersenyum cerah lalu menepuk-nepuk kepala adiknya.
*****
Seorang pria tampan berkulit coklat eksotis, mengenakan seragam XOXO High School duduk di jok belakang sebuah mobil audi merah yg dikendarai oleh seorang pria berkaca mata, pria ini tak bisa dikatakan seorang sopir karena pakaiannya yg terlalu formal layaknya pakaian seorang bos.

Kai Pov
Aku memandang keluar jendela, memikirkan berbagai cara untuk membuat Luhan tidak bekerja sambilan hari ini.
'Sial, apa yg harus aku katakan agar membuat Luhan percaya padaku?' Gerutuku karena saking frustasinya aku mendesah keras hingga membuat pria berkaca mata yg sedang mengemudi itu melirikku sekilas dari kaca spion.
"Ada apa Kai-ah" tanyanya datar.
"Anni." Jawabku singkat.

Setiap orang yg melihat kami pasti akan berpikir bahwa kami adalah pasangan anak dan ayah namun salah besar, dia adalah kekasih eommaku. Kim Jae Hoon kekasih eommaku sekaligus ayah kandung Luhan dan Sehun. Hmm aku sangat senang menjadi tokoh yg serba tahu disini, mengetahui semua yg mereka tak ketahui.

Aku masih menatap ke luar jendela saat kulihat 2 kakak beradik turun dari sebuah bus tepat di halte samping sekolah.

"Ahjusshi, berhenti tepat stelah halte itu !" Perintahku tak sopan, ahh lagipula itu sudah biasa.
Tanpa mengatakan apapun ahjusshi menurutinya.
"Kau ingin aku jemput jam berapa?" Tanya ahjusshi membuat tnganku berhenti saat ingin membuka pintu.
"Tidak usah, aku akan pulang dengan teman. Nikmatilah makan malam kalian." Sindirku lalu keluar dari mobil tepat disaat Luhan dan Sehun berjalan melewatinya.

Luhan pov
Aku dan Sehun turun dari bus, kami berjalan ke arah gerbang sekolah yg terletak hanya beberapa meter dari halte. Kami terus berjalan saat seorang lelaki yg sangat familiar turun dari sebuah mobil audi merah tepat dihadapanku dan Sehun.

Tanpa sadar aku melirik ke arah kursi kemudi mobil Kai, dibalik jendela mobil samar-samar aku melihat seorang pria berkaca mata sedang menatap ponselnya, sepertinya wajahnya tak asing bagiku. Saat aku ingin melongokkan kepalaku agar bisa melihatnya lebih jelas, Kai membuka pembicaraan tepat sebelum mobil itu tancap gas lalu pergi.

"Annyeong chingu." Sapa Kai, rivalku dikelas dalam pelajaraan bahasa inggris.
"Annyeonghaseyo sunbae." sapa Sehun kepada Kai yg merupakan sunbae nya di klub karate sekolah.
"Sehun-ah sudah berapa kali aku katakan padamu, jangan berbicara formal padaku. Kita itu seumuran." Kata Kai kepada Sehun.

Kai memang seumuran dengan Sehun namun karena kelas perecepatan yg diambilnya saat ia sekolah di California dulu membuatnya sekelas denganku saat ia mulai sekolah di XOXO High School.

"Anni sunbae, kau adalah sunbae ku di klub jadi aku harus formal kepadamu."
Kai tersenyum kearah Sehun sebelum matanya tertuju padaku.

"Kau tidak menyapaku Luhan-ah? Apa kau merasa iri padaku karena nilai ulangan bahasa inggrisku kemarin lebih tinggi darimu?" Kata Kai menunjukkan kesombongannya dengan satu alisnya yg terangkat.
"Ckk aku tidak akan iri hanya karena itu. Bukankah kau yg iri padaku Kai karena fansclub mu yg berbalik mengejarku?" Kataku sedikit melirik kebelakang Kai.

Kai mengikuti pandanganku melihat sekumpulan siswi yg sedang berbisik sambil melihat ke arahku. Aku menggoda para fans Kai dengan tersenyum lembut ke arah mereka, membuat mereka berteriak histeris. Kai terlihat geram, giginya terkatup rapat berusaha mengatur ekspresinya namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Merasa perseteruan kali ini berakhir dengan kemenanganku, aku melanjutkan berjalan ke arah pintu gerbang sekolah bersama Sehun meninggalkan Kai yg masih berdiri terpaku.
*****

Pukul 08.00 malam.
Kini Luhan sedang berada di sebuah restaurant sederhana bernama Pearl Seoul Restaurant, tempat kerja sambilannya.

Di tempat lain, Kai sedang berjalan mondar-mandir di dalam apartemennya.
"Luhan sialan! Baru saja aku mengubah pikiran untuk tidak jadi mencegahnya kerja hari ini karena emosiku yg meluap akibat kejadian tadi pagi. Namun perasaanku bertolak belakang dengan pikiranku, perasaanku tak ingin ia melihat ini semua. Ia akan terluka." Gerutu Kai sambil memutar-mutar ponsel di tangannya.
Tanpa pikir panjang lagi ia mulai mencari sebuah nama di kontaknya, terlihat nama Luhan > Dial
Nada sambung terdengar sedikit lama kemudian terdengar suara lelaki diseberang sana,
"Yeoboseyo, dengan siapa saya berbicara?" Tanya Luhan terdengar dari suaranya ia sangat terburu2.
"Ya neo ...! Luhan-ah ini aku Kai. Cepat pergi dari tempat kerjamu sialan ! Adikmu sedang berkelahi sepulangnya dari klub karate." Kata Kai tanpa tedeng aling-aling.
Tak ada jawaban dari Luhan.

Kai berharap Luhan akan mempercayainya lalu pergi dari restaurant itu.
"Gomawo Kai, keundae mianhae aku tak percaya padamu."
Tut...tut...tut...

Kata-kata terakhir Luhan masih terngiang di telinga Kai.
"Ohh sialan kau Kai ! Ingin sekali aku membunuhmu. Tapi aku lebih ingin kau tak melihat mereka !" Kai langsung berlari menuju bassment lalu masuk ke dalam mobil audi merah miliknya.
*****

Luhan pov
'Hari ini Sehun tidak datang ke klub karate bagaimana bisa dia berkelahi sepulangnya dari klub. Sialan kau Kai ! Kau salah jika kau pikir aku bisa jatuh dalam jebakanmu.' Gerutuku sambil berjalan dengan membawa sebuah tray berisi 2 minuman ke arah meja di pojok ruangan. Aku seperti mengenal sosok laki-laki yg posisi duduknya menghadap ke arahku. Semakin dekat sosok itu semakin nyata, aku mengedip-ngedipkan mataku sesekali tak percaya akan apa yg kulihat. Namun adegan yg aku lihat detik itu juga membuatku terpaku, kakiku seakan menolak melangkah. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah wanita dihadapannya, saat itu juga pertahanan hatiku runtuh. Lelaki yg dilihatnya adalah appa nya, Kim Jae Hoon sedang mencium wanita lain dihadapanku. Sedetik kemudian mata lelaki itu tertuju padaku, tak tahu apa yg merasukiku aku berjalan dengan langkah cepat ke arah mereka, kubanting tray berisi minuman di atas meja dihadapan mereka hingga isinya muncrat mengenai pakaian mereka. Aku menjambak rambut wanita itu hingga ia berdiri,

"Kau wanita jalang !" seruku, terselip sedikit rasa puas di hatiku saat mengatakan itu. Tangan kiriku masih menggenggam rambutnya, lalu tangan kananku mengambil segelas minuman yg setengahnya sudah muncrat akibat bantinganku tadi.

Tak kuhiraukan panggilan appa, dengan cepat tanganku menyiram wanita itu.
"Prrakkk ...." sebuah tamparan menyadarkanku. Tanganku mulai lepas dari rambut si wanita yg kini sudah terisak.

Kurasakan sesuatu mengalir di ujung bibirku dan tempat tamparan tadi terasa perih, kupegang pipi dan sudut bibirku tapi darahlah yg mengisi tanganku. Sepertinya pipiku tergores cincin di jari appa.
"Kau menamparku demi wanita itu?" Kataku tajam.

"Luhan-ah, kau berdarah ayo kita kerumah sakit." Kata appa berusaha menggenggam tanganku yg dengan kasar kutepis.

"Masih bisanya kau bersikap layaknya seorang appa setelah bermesraan dengan wanita lain dihadapan anakmu lalu menampar anakmu sendiri demi wanita itu hingga terluka. Kau memang appa yg sunggu luar biasa." Kata ku dengan tatapan tajam dan sinis. Aku merasakan mataku memanas, berusaha sekuat tenaga agar tak menangis. Sungguh tidak sudi aku menangis dihadapan dua orang yg berada pada urutan teratas di daftar orang yg ingin kubunuh.

"Luhan-ah ... !"
"Tidak ! Jangan panggil namaku ! Jangan anggap aku anakmu lagi ! Aku lebih memilih tak punya ayah !" Kataku dengan mata merah menatapnya tajam. Jika saja sebuah tatapan bisa membunuh manusia, aku yakin dua orang dihadapanku ini sudah terkapar tak bernyawa.
Aku menendang meja dihadapan mereka dengan sekuat tenaga hingga terjunggal, gelas2 pun pecah berserakan.
Lalu aku melangkah keluar dari restaurant itu.
*****

Kai menyaksikan semua kejadian itu dari seberang restaurant, memandang lurus menembus jendela kaca. Perasaannya tak menentu. 'Aku terlambat. Ini semua sudah terjadi. Eomma? Apakah dia terluka?' Kai memandang wanita itu, wanita yg masih berdiri disamping Jae Hoon dengan bahu bergetar, wanita itu menangis. Namun satu hal yg ada dipikiran Kai, dia harus mengikuti Luhan yg mulai keluar dari pintu restaurant. Kai bersembunyi di balik mobilnya, ia tak ingin Luhan melihatnya berada disana.
Saat ia berbalik menatap kembali ke arah Luhan berjalan namun nihil, tidak ada Luhan dari sekian banyak orang yg berlalu lalang disana.

"Ohh God, where he gone?"
Kai mengumpat lalu masuk ke dalam mobilnya, berpikir cepat apa yg harus dilakukannya sekarang.
*****

Sehun pov
"Kenapa Hyeong dan appa belum pulang. Bukankah tadi hyeong mengatakan akan pulang lebih awal."
Aku mulai gelisah, duduk cemberut dihadapan sebuah kue ulang tahun berisi 2 buah lilin angka 1 dan 9.
Hari ini adalah ulang tahun Hyeong tapi aku yakin dia tidak ingat sama sekali jadi aku dan eomma mempersiapkan surprise kecil untuknya. Aku meraih ponselku menatap gambar background di layar ponselku, sudah kesekian kalinya aku tersenyum melihat foto ini. Aku akan menunjukkan foto ini kepada hyeong dan appa setelah mereka pulang. Kira-kira apa yg akan hyeong katakan ya? Aku yakin ia tak akan henti2nya tersenyum sepertiku saat melihat ini. Aha, sesuatu terpikirkan olehku, bagaimana kalau aku mengirim foto ini untuknya? Ne aku akan mengirimkannya untuk hyeong, siapa tahu setelah melihat foto ini ia akan segera pulang.
Aku mengirimnya via salah satu aplikasi chatting yg sering kami gunakan.

Oke foto telah terkirim tinggal menunggu hyeong untuk melihatnya lalu membalas chatku dan mengatakan ia akan segera pulang. Aku pun tersenyum puas berusaha menghapus rasa gelisah yg sedari tadi terselip di hatiku.
Teringat dengan eomma dan Je Hyun yg sedari tadi menangis tanpa henti, aku melangkah ke kamar eomma membuka pintu secara perlahan lalu mendapati eomma sedang memangku adikku, Je Hyun tampak seperti malaikat kecil yg lemah memejamkan matanya terlihat sangat damai.

"Sehun-ah, apa mereka sudah datang?" Kata eomma seperti merasakan kehadiranku di ambang pintu.
"Anni eomma." Kataku singkat. "Mungkin mereka sangat sibuk, bersabarlah." Kata eomma. Aku berjalan ke arah eomma lalu duduk di sampingnya.

"Tapi ..."
"Apa kau juga merasakannya?"
"Maksud eomma?"
"Apa kau juga merasa gelisah?" Kata-kata eomma sedikit membuatku terkejut, sangat tepat aku merasa sangat gelisah tapi mencoba untuk berpikir positif.

"Ne eomma, aku merasakannya. Tapi mereka akan pulang?!" Aku tak tahu kalimat yg terlontar dari mulutku apakah sebuah penjelasan atau pertanyaan? Tapi itu lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan. Apa aku mulai meragukan kepulangan mereka?

"Semoga Tuhan melindungi mereka." Kata eomma, tersimpan beribu doa dibalik kata-katanya.
"Eomma, apa Je Hyun baik-baik saja?" Kataku, menyentuh tangannya yg terkepal dengan sangat perlahan bak Je Hyun sebuah benda yg rapuh.

"Hmm gwaenchana." Kata eomma meyakinkanku tapi kenapa aku mendengar sedikit rasa ragu dari perkataan eomma. Sebenarnya apa yg dirasakan Je Hyun sekarang? Apakah dia sedang menahan rasa sakit? Andaikan ia bisa bicara, akankah ia mengeluh sakit pada jantungnya? Jantung yg merupakan bagian inti dari tubuh manusia namun dia, malaikat kecil di hadapannya ini tidak bisa merasakan betapa indahnya memiliki jantung yg sehat.
Tanpa sadar setetes air mata keluar dari ujung mataku. Eomma menyekanya, tak satu katapun diucapkannya. Namun tatapan matanya yg teduh mampu membuatku kembali tenang.

Suara dering ponsel yg kugenggam memecah keheningan,
'Kai sunbae?' Bisikku dalam hati. Lalu keluar dari kamar eomma agar tidak mengganggu tidur Je Hyun.
"Yeoboseyo sunbae?"
"Sehun-ah...!"
*****

Luhan berjalan menyusuri gelapnya malam. Dia lebih tampak seperti mayat hidup berjalan dengan tatapan menerawang, darah yg telah mengering di sudut bibir dan di pipinya menghiasi wajah pucatnya.
Kejadian tadi masih berputar-putar dikepala Luhan, apa yg appanya lakukan kepadanya membuat luka lama kembali meradang bahkan jauh lebih parah.

Suara notifikasi ponselnya membuat Luhan merogoh saku celananya,
'Sebuah foto dari Sehun?'

Luhan membukanya, sebuah foto selca, hanya sebuah foto selca yg kini dibasahi oleh air mata Luhan. Luhan menangis, membiarkan air matanya mengalir, membiarkan pertahanan terakhirnya runtuh hanya dengan sebuah foto selca dua orang dongsaeng dan eommanya. Luhan masih menatap foto di ponselnya, tampak wajah manis nan pucat bagai seorang malaikat Je Hyun duduk di atas meja makan bersama Sehun yg memeluk Je Hyun dari belakang dengam menyipitkan matanya sambil mengerucutkan bibirnya, eomma berdiri disisi Je Hyun tersenyum cerah dengan eye smile menghiasi wajah lelahnya, dihadapan Je Hyun terletak sebuah kue tart bertuliskan 'Saengil Chukkae Luhan-ah'.

Ulang tahun? Luhan jadi mengingat sesuatu,  tadi pagi sebelum ia dan Sehun berangkat sekolah, Eommanya dengan tatapan dan senyum cerahnya menyuruh Luhan untuk pulang lebih awal, begitu juga Sehun disertai anggukan ayahnya.

'Sekarang ulang tahunku, apa merekasedang menungguku pulang?'
Lagi-lagi air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya, Sehun, Eomma, Je Hyun, dan ulang tahunku.
'Ulang tahun? Itu sudah tidak ada artinya karena appa sudah memberikan kado luar biasa dalam hidupku.'
'Tapi aku harus berbuat apa? Apa yg harus aku lakukan? Apa yg harus aku katakan pada mereka? Sehun, Eomma, Je Hyun, mereka adalah hidupku. Jadi aku harus apa? Haruskah aku pulang lalu merayakan ulang tahunku dengan kebahagian disaat aku tahu apa yg appa lakukan tadi? Tidak aku tidak bisa ... lebih baik aku mati Tuhan.' Luhan tertunduk meremas rambutnya frustasi dengan air mata terus mengalir, ketika ia mendongakkan kepalanya samar-samar dilihatnya dua laki-laki bertubuh kekar menghadangnya, lelaki yg berambut pirang memiliki tinggi hampir dua meter jauh melebihi tinggi lelaki disampingnya bahkan lebih tinggi dari Luhan, dan tiga orang dibelakangnya memiliki tinggi badan hampir sama namun Luhan lebih tinggi beberapa cm dari mereka.
Luhan menajamkan matanya, mencari tahu sesuatu yg bisa membantunya mengetahui identitas mereka. Mereka menggunakan jakel kulit yg sama berwarna hitam dan di masing-masing bagian ujung kanan bawah terdapat sebuah huruf, apakah itu sebuah inisial nama genk? Tapi masing-masing dari jaket kulit yg mereka kenakan memiliki huruf yg berbeda. Kemungkinan lain terbersit di kepal Luhan, ia melirik cepat ke arah lelaki setinggi hampir dua meter, K, lelaki disebelahnya L, lalu tiga orang lelaki dibelakangnya, C, D, dan X. Luhan menyimpulkan sesuatu.

'Huruf-huruf itu adalah inisial nama mereka.' Kata Luhan dalam hati. Ia sangat percaya dengan apa yg dipikirkannya.
"Apa yg kalian inginkan?" Kata Luhan, tidak ada rasa takut di setiap katanya.
*****

"Sunbae, itu hyeong !" Tunjuk Sehun kearah lelaki yg sedang berdiri sendirian yg jaraknya hanya beberapa meter dari mobil Kai.

"Ya itu benar2 Luhan." kata Kai sambil menatap ponsel Sehun, terdapat titik merah signal GPRS ponsel Luhan tepat berada beberapa meter dari mobil mereka.
Sehun bersiap membuka pintu mobil saat mobil Kai berhenti namun Kai melarang.

"Chankaman sehun-ah !" Kata Kai.
"Wae sunbae?"
"Lihat itu." Tunjuk Kai, terlihatlah 5 orang lelaki kekar menghadang Luhan.
"Apa kau takut sunbae? Ayo kita tunjukkan jurus karate kita."

"Bukan begitu Sehun-ah. Kau lihat lambang di belakang jaket mereka? Itu adalah lambang pembunuh bayaran terkenal di kota ini. Tingkatan karate kita berada jauh dibawah mereka. Kita bertiga bisa mati walaupun awalnya kita bisa melawan. Dan kau lihat lelaki paling tinggi berambut pirang itu? Dia adalah Kris ketua geng mereka. Entah apa yg diperbuat Luhan hingga seseorang menghubungi mereka untuk membunuh Luhan." Kata Kai yg sontak membuat tubuh Sehun menegang.

'Membunuh? Mereka akan membunuh hyeong ku? Tidak akan kubiarkan. Selama ini hyeong selalu melindungiku tapi sekarang adalah giliranku untuk melindunginya.' Pikir Sehun.
Sehun membuka mobil pintu Kai namun tak berhasil.

"Sunbae, biarkan aku turun." Bentak Sehun ke arah Kai yg sedang berpikir keras.
"Sunbae aku mohon. Hyeong bisa mati." Kata Sehun lirih.
Emosi Sehun semakin menjadi saat dilihatnya tubuh Luhan terjungkal akibat pukulan dari salah satu pembunuh bayaran itu.

"KAAAIII !" Teriak Sehun yg kini menarik kerah baju Kai, matanya berkilat merah lalu setetes air mata Sehun jatuh tepat dihadapan Kai.
Kai memandang Sehun tak percaya, lalu segera memencet tombol untuk membuka pintu sebelum Sehun berpikir untuk membunuhnya.

Sehun melepaskan tangannya dari kerah baju Kai, membuka pintu lalu berlari ke arah Luhan yg dipukul oleh para pembunuh bayaran.

Sesuatu merasuki otak Kai memberinya pencerahan, dengan cepat ia meraih ponselnya, men-dial sebuah kontak.
"Tao hyeong ... aku membutuhkanmu !"
*****

Luhan Pov
"Apa yg kalian inginkan?"
"Yg kami inginkan? Jika kami memberitahu apa yg kami inginkan, apakah kau akan bersedia memberikannya pada kami?" Tanya seorang lelaki berinisial X.

Aku tak menjawab. Hanya memandang mereka waspada. Jika mereka menyerang, aku bisa sedikit melawan tapi teknik karateku tak setinggi Sehun ataupun Kai.

"Kenapa kau diam bedebah?" Bentak lelaki berinisial D.
"Kenapa kalian mencegatku? Aku tak mengenal kalian." Kataku.

"Memang tidak Kim Luhan. Dan seharusnya kau bertanya siapa yg mengirim kami untuk ... Bugg ! Melakukan itu padamu." Kali ini lelaki berinisial L yg menjawab. Aku terjengkal ke belakang setelah mendapat pukulan darinya. Dia mengajakku bicara, membuatku lengah lalu memukuku disaat yg tidak kuduga. Pikiranku berputar mencari kemungkinan dari kata-kata lelaki itu. Siapa yg mengirim mereka? Ohh dia kah? Apakah appa yg mengirim mereka untuk membunuhku?

"woww ... sisakan untukku hyeong." Kata lelaki berinisial C lalu ia maju menarik kerah bajuku hingga aku berdiri, dia bersiap meninjuku, aku berusaha mempraktekkan teknik dasar yg diajarkan Sehun padaku dan brrukkk... berhasil, dengan mudah aku menjatuhkannya dengan tinggi badanku yg melibihi dia.

"Ohh sh*t !" Teriak si inisial C, berusaha berdiri menyerbu lalu memukul dan menendangku bertubi-tubi.Aku tak dapat bergerak karena kini tanganku ditahan oleh dua orang dari mereka. Aku merasakan darah keluar dari hidung dan bibirku, badanku terasa runtuh seakan tak ada tulang yg menyangga.

"Hentikan Chen !" Perintah si inisial K yg mendekatiku, tubuhnya yg tinggi berdiri menjulang dihadapanku.
"Beraninya kau melukai bawahanku! Seharusnya kami langsung membunuhmu tapi karena ayahmu telah mengganti rugi atas apa yg kau lakukan di restaurant milik bos kami, jadi kami akan sedikit bermain denganmu sebelum kau mati ditangan kami." Katanya datar namun tak menutupi rasa amarahnya. Jadi dia adalah ketuanya, aku menatapnya dengan wajahku yg kini telah lebam dan berdarah. Dia menatapku dengan tatapan yg seakan mampu menyayat dan memotong isi tubuhku. Aku memikirkan perkataannya yg menjawab semua pertanyaanku.

Jadi bukan appa, jadi mereka adalah orang suruhan dari pemilik restaurant tempatku bekerja.

Bukkhh ! Dia memukulku jauh lebih keras dari pukulan si inisial C, membuatku sekali lagi terjengkal ke tanah. Pandanganku buyar namun sedetik kemudian aku melihat dihadapanku Sehun berkelahi dengan mereka, aku tak yakin dengan penglihatanku. Kutajamkan pandanganku namun itu benar-benar nyata. Itu Sehun, dia datang menolongku. Kemudian pandanganku teralihkan oleh sebuah lambang di bagian punggung jaket kulit yg dikenakan para pembunuh itu.

Tubuhku menegang saat menyadari lambang itu, itu adalah lambang kelompok pembunuh bayaran terkenal di kota ini. Sehun tidak akan bisa, dia akan mati, aku akan mati, kita akan mati. Dengan sekuat tenaga aku bangun dengan tubuh yg kini mati rasa. Aku baru menyadari ada orang lain disana, Kai... dia membantu Sehun melawan para pembunuh itu.

"Sehun-ah... cepat bawa Luhan pergi dari sini !" Teriak Kai.
"Tapi sunbae?"
"Cepat pergilah ke tempat tadi !!" Teriak Kai lagi.
"Hyeong, naiklah ke atas punggungku." Kata Sehun yg tanpa kusadari kini telah berdiri dihadapanku.
*****

Sehun menggendong Luhan yg setengah sadar, berjalan ke arah mobil audi merah milik Kai.
"Se...Sehun-ah..." kata Luhan.

"Wae hyeong?" Kata Sehun dengan mata memerah.

"Gomawo ..." satu kata dari Luhan membuat Sehun menitikkan air matanya. Luhan pun tak sadarkan diri saat Sehun menurunkannya di kursi belakang mobil Kai.

Saat Sehun melihat ke arah enam orang yg masih berkelahi itu datang sebuah mobil, turunlah empat orang yg mengenakan masker hitam lalu membuat kelompok pembunuh bayaran itu terjengkal dengan sekali pukul.
"Mereka siapa?" Pikir Sehun.

Lalu matanya tertuju pada seseorang yg tergeletak di atas tanah.
"Kai sunbae !" Pekik Sehun.

Menghampiri Kai lalu menggendong Kai ke arah mobil. Di tengah kesadarannya, Kai membisikkan sesuatu pada Sehun lalu diakhiri anggukan Sehun tanda mengerti kemudian mengambil alih kemudi.
*****

Sehun duduk di atas sofa yg ada di kamar apartemen milik Kai. Ia merawat dua orang yg kini tak sadarkan diri, tidur bersebelahan di ranjang milik Kai. Ia melirik jam tangannya. Pukul 1 dini hari namun ia tak bisa tidur. Banyak kejadian malam ini yg tak lepas dari pikirannya, terlalu banyak hingga otaknya tak mampu mencerna semuanya.

'Apa yg dilakukan hyeong hingga hampir dibunuh oleh pembunuh bayaran terkenal? Kenapa ia tak langsung pulang sehabisnya bekerja? Kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Apapun itu, apapun yg membuat hyeong menjadi seperti ini, kenapa kau menyimpannya sendirian hyeong? Tidak bisakah kau memberitahukannya padaku? Tidak bisakah kau mengatakan padaku apapun yg kau rasakan?

Karena aku adalah dongsaengmu, aku juga ingin merasakan apa yg sedanh kau rasakan.' Pikir Sehun, menatap lirih ke arah Sehun yg tak sadarkan diri. Tatapannya melemah, semakin melemah hingga air mata jatuh membasahi pipinya, membasuh luka di hatinya yg kian semakin perih.

'Apa yg harus aku lakukan sekarang? Kemana perginya appa disaat kami membutuhkannya?' Bisik Sehun frustasi meremas rambutnya dengan tangan kanannya yg diperban, luka yg didapatnya akibat perkelahian tadi. Ia tertunduk menatap lantai berusaha melawan dirinya agar tak terisak lebih keras.
"Sehun-ah..." suara seseorang menyadarkannya.

"Hyeong ..." Sehun menghampiri Luhan dengan air mata yg masih menetes.

"Mianhae Sehun-ah." Kata Luhan yg kini juga meneteskan air mata. Sehun berdiri di sisi Luhan yg masih berbaring. Mereka menangis terisak. Luhan berusaha bangkit duduk.

"Kemarilah Sehun-ah." Kata Luhan menarik Sehun kepelukannya.

Ia memeluk Sehun erat, dongsaeng yg merupakan bagian dari hidupnya.

Mereka terus menangis, menumpahkan semua yg mereka simpan selama ini, menangis tanpa mengucapkan apapun. Tak ada ego, tak ada rasa malu. Hanya air mata dan isakan yg memenuhi ruangan ini.
Dering ponsel Sehun menghentikan isakan mereka. Luhan melepas pelukannya kemudian membiarkan Sehun mengangkat telepon.

"Eomma ?" Bisik Sehun. Tak tahu darimana datangnya, perasaan buruk menyinggahi hati Sehun begitupula Luhan yg kini berusaha berdiri dengan keadaan tubuhnya yg masih nyeri.
"Wae eomma?"

"... Sehun-ah hikss... Je Hyun ..."
*****
Luhan pov
Aku dan Sehun berlari masuk ke rumah sakit mencari eomma. Entah apa yg terjadi, tiba-tiba Sehun menarikku setelah mengangkat telepon dari eomma. Kami berhenti di ujung sebuah koridor panjang memperlihatkan seorang wanita duduk di kursi tunggu di depan sebuah ruangan.

"Eomma !" Panggil Sehun lalu lari ke arah eomma.

Sehun memeluk eomma lalu ikut terisak.

Aku hanya mematung memperhatikan dua orang dihadapanku.

"Eomma, apa sebenarnya yg terjadi pada Je Hyun?" Kataku memaksa diri untuk bertanya.

Eomma hanya menunjuk sebuah ruangan di hadapan mereka dengan masih terisak dipelukan Sehun.

Aku melangkah ke arah pintu yg ditunjuk eomma, membukanya perlahan, tampak sebuah tempat tidur dengan sebuah gundukan kecil yg tertutup oleh kain putih. Aku memegang ujung kain, menariknya hingga tersingkap.

Terlihatlah apa yg telah kuduga. Tubuh dongsaeng kami, malaikat kami, wajah pucat Je Hyun menghiasi mataku yg kini dibanjiri air mata. Kutangkup wajah Je Hyun, rasa dingin mengaliri kedua telapak tanganku.

"Je Hyun-ah...?" Panggilku namun tak ada gerakan dari Je Hyun.

"Je Hyun-ah ini oppa. Apa kau bisa merasakan hangatnya tangan oppa?" Bisikku, dengan air mata yg tak henti-hentinya mengalir.

"Je Hyun-ah, kau tetap hidup. Kau akan tetap hidup di hati kami." Kataku yg kini sudah tak mampu menahan diriku untuk tak terisak. Aku jatuh terduduk di lantai.

Terdengar isakan tangis Sehun dan eomma yg telah masuk ke dalam ruangan.

"Je Hyun-ah..." panggil Sehun.

Sehun meraih tubuh Je Hyun ke dalam dekapannya.
"Bangunlah Je Hyun, oppa mohon. Ayo kita bermain bersama lagi." Kata Sehun sia-sia karena yg kini dipeluknya hanya tubuh Je Hyun yg tak bernyawa.

"Je Hyuunnn-aahhh .... !!!!
Teriakan Sehun menggema di ruangan ini, aku duduk mendekap lututku, menunduk dan menangis sejadi-jadinya. Malam ini terlalu banyak air mata, aku lelah sangat lelah. Aku menangis menumpahkan semua isi hatiku, disaat
bibir ini sudah tak mampu lagi berkata namun air mata akan mengungkap segalanya.

Semua yg aku pendam sendiri telah tumpah, semua hal-hal paling kelam yg terkubur di dalam dasar hatiku telah aku luapkan melewati tangisan. Sebegitu banyak yg aku tumpahkan hingga aku yakin air mata yg biasanya berwarna bening telah menjadi hitam. Hitam, kelam, pekat, sepekat dan sekelam hatiku saat ini. Yeah my tears is black tears.
*****

Pakaian serba hitam mengelilingi sebuah makam kecil. Satu per satu orang telah beranjak pergi meninggalkan dua orang namja dan seorang yeoja yg masih bersimpuh di sisi makam. Tampak raut kesedihan dan kehilangan yg luar biasa dari wajah mereka.

"Apakah appa tidak datang hyeong?" Tanya Sehun, sudah kesekian kalinya ia menanyakan hal ini pada Luhan namun Luhan tak pernah lelah menjawabnya.

"Anni, dan mungkin tidak akan pernah." Kata Luhan datar tanpa menoleh ke arah Sehun.

"Aku merindukan appa hyeong."

"Aku tidak."

"....."

"Aku sudah menceritakan semua kejadian malam itu padamu, dia pergi begitu saja bahkan ia tak tahu bahwa Je Hyun sudah tak ada. Apa kau masih mengharapkan dia?" Tanya Luhan.

"Anni."
"Lalu?

"Entahlah, aku hanya merindukannya. Eomma, apa kau merindukan appa?" Tanya Sehun. Kini mata Luhan dan Sehun tertuju pada eomma mereka.

"Eomma tidak membutuhkan siapapun lagi di dunia ini, dengan adanya kalian di sisi eomma itu sudah melebihi dari kata bahagia, Sehun-ah." Kata Eomma berusaha tersenyum dengan wajah pucatnya. Eomma berdiri, menghampiri kedua putranya memeluknya erat di depan makam Je Hyun.

Di dalam pelukan eommanya, Sehun mendongakkan kepala, menatap langit yg bersinar cerah, lalu ia berbisik entah apakah eomma dan Luhan mendengarnya,
"Bagaimana denganmu Je Hyun-ah? Apakah kau merindukan appa?"

Matahari yg semakin bersinar cerah seakan menjawab pertanyaan Sehun.

TAMAT

FF ini aku buat untuk lomba FF EXO bertema sad tapi sayangnya gak menang, tapi berkat dukungan banyak temen2 aku jadi lebih bersemangat jeongmal gomawo ^^. Untuk yg udah baca mohon kritik dan sarannya ya :) Don't be silent reader please :)



#ExoFanFiction #FFEXO #FFLuhanSehun #FFHunHan #EXOFanFic

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Live To Write To Live

Menulis ? Mendengar satu kata itu, apa yg terpikirkan olehmu? Definisi menulis menurut setiap orang pasti berbeda-beda. Bagiku menulis adalah saat dimana aku mencurahkan seluruh hal yang sedang aku rasakan yang bahkan aku sendiri tak bisa mengakuinya pada orang lain, suatu hal yang tak mudah tersampaikan dengan kata-kata namun akan terungkap segalanya melalui tulisan yang kubuat. Itulah definisi menulis bagiku. Aku bukanlah seorang yang pandai mengungkapkan isi hatiku atau apapun itu pada seseorang. Jika tidak dengan menulis apa jadinya aku ? Akankah aku menjadi wanita menyedihkan yang memendam segala yang kurasakan sendirian ? Oh tidak, bahkan aku rasa hal itu jauh lebih menyedihkan dari definisi 'sendiri'. Aku merasa sangat bahagia disaat aku menulis, bahkan aku rasa itu sesuatu yang melebihi kata bahagia. Pernahkah terpikir olehmu bahwa penulis itu seperti Tuhan yang bisa dengan mudahnya menciptakan orang-orang dengan berbagai macam karakter yang berbeda-...

Sebuah Pesan di Pohon Maple

1999, Winchester, Hampshire, England. Hangatnya cahaya matahari seakan mengucap salam perpisahan sebelum kembali ke peraduannya. Terdengar suara gemerusuk dedaunan kering berguguran menutupi jalanan dan rumput-rumput disekitar serta kicauan pilu burung-burung yang mulai kehilangan rumahnya di awal musim gugur. Sebuah senandung seorang gadis menularkan keceriaan hatinya dengan senyuman bak malaikat dan rambut hitam si gadis yang terurai indah dibelakang punggung dan bergerak mengikuti langkah-langkah kecilnya. Ia terus melangkah, tak sabar untuk bertemu dengan seseorang yang sedang menunggunya di sebuah ladang yang terletak di pinggir danau. ‘Haruskah aku memeluknya setelah mengatakan bahwa aku telah diijinkan mama dan papa untuk tidak ikut pergi bersama mereka? Ohh tidak, itu terlalu berlebihan.’ Gumam gadis itu membuat semburat warna merah terang menghiasi pipi chubby-nya. Beberapa langkah lagi ia akan menemui seorang lelaki yang ditemuinya pada awal musim semi dan telah...

Mesin Waktu

Hallo.... ini satu lagi cerpen aku.. aku lupa ini tahun kapan, antara 2015-2016 kali yaaa. Dan cerpen ini dimuat di majalah mandiri di kampus aku. Ini sudah aku edit dan revisi tapi tidak megubah alur ceritanya kok. Semoga kalian semua menikmati yaa.. jangan lupa tinggalkan komentarnya yaa... *********************** Mesin Waktu " Jika boleh memilih, aku lebih suka diriku yang sekarang dengan sejuta ekspresi yang bisa dengan lepas kutunjukkan tanpa rasa ego sedikitpun. Apakah itu karena kehadiranmu? Tapi jika andai saja semua berubah dan kau tak lagi disampingku, bisakah aku melakukannya seorang diri?" *** Aku merapatkan jaket yang kukenakan. Sangat dingin tapi sama sekali tidak ada angin. Karena berlokasi di area pegunungan menjadikan tempat rekreasi ini sering diselimuti kabut dan berudara dingin. Seperti sekarang ini, sebagian danau tertutupi kabut namun sebuah adegan di tepi danau itu terlihat sangat jelas. Sepasang pria dan wanita yang sedang ber...